Semarang - Jawa Tengah dikenal sebagai provinsi yang kaya dengan kreasi batik klasik maupun kontemporer. Kekhasan motif batik terus diangkat guna menggali potensi pada masing-masing daerah Kabupaten / Kota se-Jateng. Upaya tersebut juga dilakukan oleh TP PKK Provinsi Jawa Tengah melalui Talkshow dan Lomba Kreasi Batik Jawa Tengah bagi TP PKK Kabupaten / Kota se-Jawa Tengah. Wakil Ketua I TP PKK Kabupaten Kudus Hj. Mawar Hartopo tampil sebagai peserta dalam lomba yang mengangkat tema 'Harmoni Paduan Keindahan Batik dan Tenun / Lurik dalam Modest Fashion'.

Bertempat di Daisy Room, Hotel MG Setos, Semarang, Rabu (27/11), Talkshow dan Lomba Kreasi Batik dimaksudkan untuk menggali kreativitas dan potensi batik serta meningkatkan daya saing batik dengan menyesuaikan tren pasar, melestarikan keberlangsungkan karya seni batik untuk mempertahankan budaya warisan bangsa, membudayakan desain sesuai dengan moral dan budaya Indonesia, serta untuk mendorong rasa cinta dan bangga menggunakan produk dalam negeri. Lomba diikuti oleh 70 peserta dari unsur Pokja 3 TP PKK Kabupaten/kota se-Jateng yang masing-masing diwakili dua orang.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah Hj. Siti Atikoh Ganjar Pranowo menyampaikan bahwa setiap daerah Kabupaten / Kota di Jateng mempunyai potensi batik masing-masing. Banyaknya motif batik modern yang unik karya pengrajin batik di tiap daerah perlu diangkat melalui suatu pameran dan lomba. Pameran batik tidak hanya ditampilkan dalam bentuk kain, namun telah menjadi produk fashion siap pakai. Sebagai nilai tambah, menurut Atikoh, batik dapat dikombinasikan dengan tenun dan lurik yang dituangkan kedalam sebuah busana.

Sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah, Atikoh mengungkapkan bahwa Pemprov Jateng rajin menggelar pemeran-pameran batik. Selain untuk mengangkat potensi batik daerah, pameran juga bertujuan untuk memacu inovasi para pengrajin batik. Atikoh menilai, tantangan para pengrajin batik saat ini adalah bagaimana menciptakan motif batik sesuai tren kaum milenial. Sehingga para pengrajin batik harus memperluas cakupan target pemasarannya, salah satunya dengan bekerja sama dengan desainer.

"Diperlukan inovasi dan desain yang bisa masuk ke seluruh lini, termasuk kalangan milenial. Harus ada inovasi-inovasi agar motif batik bisa sesuai dengan tren saat ini. Agar batik tidak hanya terpaku untuk dipakai di acara kondangan tapi bisa dalam berbagai acara dan kegiatan," ujarnya.

Sementara itu, desainer Ina Priyono sebagai narasumber talkshow, terus mendorong desainer-desainer untuk mengeksplorasi busana batik untuk dipadukan dengan bahan lurik dan tenun. Kolaborasi ketiga bahan tersebut dipercaya dapat menghasilkan produk busana yang menarik, sehingga dapat mendobrak pasar dan tren generasi milenial. Karena selama ini, busana batik cenderung identik dengan acara kondangan atau kegiatan formal lainnya. "Batik dengan motif untuk anak muda kita kolaborasikan dengan lurik dan tenun, tidak hanya terpacu pada dengan batik saja. Kita perlu berinovasi agar desainnya tidak hanya monoton," katanya.

Mawar Hartopo tampil sebagai peserta dengan desain busana yang mengangkat kaindahan alam dan tradisi Kota Kudus. Busana dirancang dengan menggunakan batik 'Sekar Jagad Kudusan' dengan kombinasi kain lurik. Kedua kombinasi tersebut melambangkan keagamaan, kecantikan, keindahan, dan sebagai pelindung secara fisik maupun spiritual bagi pemakainya. Dirinya menjelaskan, busana tersebut mengesankan seorang wanita yang cantik namun juga bisa menjaga diri. Tak lupa, Mawar menyampaikan pesan kepada masyarakat Kudus untuk bangga memakai batik Kudusan. "Mari kita memakai batik Kudusan, pemerintah daerah juga telah menginstruksikan untuk memakai batik Kudusan sebagai seragam ASN setiap hari rabu," ujarnya.

(Marai/SemarangNews)

Post a Comment